Pilih Bahasa:

SEDIKIT WAKTU LAGI!

maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat;

Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman YAHWEH semesta alam.

Kepunyaan-Kulah perak

dan kepunyaan-Kulah EMAS,

demikianlah firman YAHWEH semesta alam.

(Hagai 2:7b-9)

Gold Price:

Saya Mau Percaya Tuhan, jika …. (Part 1)

Sebelum sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus, ada begitu banyak pertanyaan yang timbul di dalam hati saya terhadap iman Kekristenan. Bagi saya adalah sah saja jika pertanyaan itu muncul, karena apa yang di-klaim orang Kristen sebagai Kebenaran dan Wahyu Tuhan itu seringkali tidak masuk akal bagi saya. Terkadang saya menemukan begitu banyak hal yang berlawanan dengan logika dan hati nurani saya pada saat itu.

Namun saya tidak serta-merta menyatakan bahwa: “Kekristenan adalah Bullshit!” hanya karena ada beberapa pertanyaan saja (hanya sekitar 200 pertanyaan) yang tidak dapat saya pahami. Mungkin saja jika saya mempelajari dengan lebih mendetail dan memahami sudut pandang & pola pikir orang Kristen, saya bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya tahu bahwa Yesus pernah mengatakan di Matius 5:6: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Ayat ini sangat cocok buat saya, karena saya memang benar-benar kelaparan dan kehausan akan kebenaran, ini menjadi pendorong bagi saya untuk berusaha mencari tahu dan belajar lebih banyak lagi. Jika ayat ini tidak terbukti, buat apa saya terima iman kepercayaan yang sia-sia seperti ini? Saya berdoa, “Jika Engkau benar-benar ada, benar-benar Tuhan yang sejati & bisa mendengar doa saya ini, tentu tidak sulit bagi-Mu untuk menjawab semua pertanyaan itu.”

Ajaib sekali! Satu persatu pertanyaan saya dijawab oleh-Nya. Tentu dengan banyak cara, melalui buku yang kebetulan saya baca, koran, Alkitab. Dari percakapan di radio, khotbah di kaset, khotbah di gereja, artikel di internet. Melalui berbagai peristiwa yang saya alami, bahkan lewat mimpi, intuisi, suara yang tiba-tiba muncul sendiri di dalam hati dan telinga saya, dan lain-lain hal yang sepertinya terjadi secara “kebetulan” dan “tidak masuk di akal saya”.

“… tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26)

Mulanya saya tidak percaya, namun lama-kelamaan, saya tidak berani untuk tidak percaya lagi. Tidak mungkin “kebetulan” itu terjadi secara terus-menerus dan beruntun seperti itu! Justru menjadi tidak masuk akal bagi saya jika semua peristiwa yang janggal dan terjadi ratusan kali seperti itu disebut sebagai; “kebetulan”

Dari semua itu, Tuhan mengajar saya: “Jangan kamu tidak percaya lagi, melainkan percayalah!”

Sejak saat itu saya bertobat deh. Saya tidak berani lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan, tetapi saya mulai mengajukan pertanyaan yang benar-benar tidak dapat saya pahami. Mulai saat itu, saya belajar utk menganalisa berbagai bentuk pertanyaan yang diajukan orang terhadap iman Kekristenan. Mulai timbullah keprihatian di dalam hati saya, karena menemukan begitu banyak pertanyaan yang benar-benar membutuhkan jawaban, namun tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Kebanyakan dari pertanyaan yang bermutu, seringkali dijawab dengan jawaban yang sama sekali tidak bermutu oleh orang-orang yang mengaku “Kristen”. Hal ini membuat saya benar-benar gemas! Oleh karena itu saya bertekad untuk menuliskan artikel ini.

Dari sekian banyak pertanyaan terhadap Kekristenan, umumnya dari golongan yang “tidak percaya,” selalu menuntut supaya Tuhan dan kebenaran-Nya masuk di akalnya dulu, bisa diterima oleh logikanya terlebih dahulu, baru bersedia percaya. Seringkali juga, pertanyaan itu diajukan dengan motivasi yang salah. Namun dari kalangan “orang percaya,” biasanya mulai timbul pertanyaan-pertanyaan jika seseorang sedang menghadapi persoalan hidup yang nyata, yang menurut pendapatnya tidak selaras dengan “kebenaran” yang selama ini diyakininya.

Tetapi jika direnungkan syarat yang diajukan oleh mereka yang “tidak percaya,” akan timbul pertanyaan: “Apakah otak manusia yang terbatas ini sanggup menyelami dan memahami secara utuh akan kedahsyatan dan hikmat Sang Pencipta jagad raya ini?” Padahal, sebenarnya banyak dari para penuntut itu yang tidak sadar bahwa mereka sendiri juga sedang memegang dengan teguh berbagai doktrin / kepercayaan / falsafah hidup yang tidak pernah dipertanyakan lebih dahulu asal-usul dan kebenarannya. Mereka tidak pernah menerapkan tuntutan dan syarat yang sama (dengan semangat yang sama pula) dalam menguji semua “kebenaran” yang telah dianut sebelumnya, seperti yang mereka berlakukan terhadap iman Kekristenan. Apa yang cocok di hatinya, itulah yang menjadi kebenaran bagi dirinya. Tetapi, “Apa logika kecocokan seperti itu dapat diterapkan pada semua kebenaran?”

Itu sebabnya banyak orang menganut suatu agama, karena keluarganya menganut agama itu, atau agama itulah yang dirasa cocok bagi dia. Saya dulu juga seperti itu, saya merasa suka kepada agama Kristen, karena orang-orang Kristen yang saya kenal, bersikap baik sekali terhadap saya. Belakangan saya baru sadar bahwa kebenaran tidak bisa didasarkan kepada suka atau tidak suka! Dasar semacam itu pasti langsung hancur, jika saya mendapatkan perlakuan buruk dari orang Kristen, walaupun pada saat itu mereka sedang melakukan hal-hal yang berlawanan dengan Firman Tuhan. Sudah terbukti ada begitu banyak orang Kristen dengan dasar iman seperti ini yang langsung menolak kasih dan kebenaran Kristus, setelah mendengar / melihat / mengalami hal-hal buruk dari “orang Kristen” yang dikenalnya. Pengertian ini membukakan wawasan baru bagi saya dalam cara memandang kebenaran yang sejati.

Lalu, “Apakah setelah otak yang terbatas itu dipenuhi dengan seluruh hikmat dan kebenaran, serta-merta ia akan percaya?” Rupanya jawabannya tetap: “Tidak!”

Ternyata keputusan untuk percaya dan menerima atau tidak adalah sebuah pilihan, keputusan itu kembali kepada masing-masing pribadi.
Karena “iman percaya” adalah sebuah anugerah / karunia Roh Kudus. Itu sebabnya ada tertulis:

Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. …” (Matius 13:11)

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. …” (Matius 19:11)

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim, … (Efesus 2:8)

Namun begitu, adalah kewajiban bagi “orang percaya” untuk berhikmat dan menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan kebenaran berdasarkan Firman tetap ada. Urusan apakah setelah itu, orang tersebut mau percaya atau tidak, tetap kembali kepada keputusan masing-masing individu. Lakukanlah bagian kita dengan baik, selebihnya adalah pekerjaan Roh Kudus.

Ketahuilah bahwa kepercayaan yang dihasilkan oleh kehebatan dan kebijaksanaan kita dalam berdebat tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman yang dikaruniakan oleh Roh Kudus!

Iman semacam itu benar-benar dasar yang teguh, fondasi yang sangat kokoh, tak tergoncangkan, walaupun diterpa oleh berbagai badai kehidupan.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam menjawab pertanyaan:

  1. Selalu menyimak dan memperhatikan dengan baik pada saat pertanyaan diajukan. Salah dalam memahami pertanyaan akan menghasilkan jawaban yang salah. Kemampuan analisa dan menentukan jenis serta tujuan pertanyaan sangat membantu dalam menjawab pertanyaan. Jika menjawab secara lisan, sebaiknya sebutkan ulang pertanyaan itu sebelum dijawab.

  2. Selalu andalkan Tuhan, berdoa meminta pimpinan & pertolongan Roh Kudus sebelum memberikan jawaban. Ini adalah tahap yang paling penting, karena setiap hikmat yang kita miliki adalah berasal daripada-Nya. Berdoa juga supaya Tuhan membukakan mata & telinga rohani orang yang mengajukan pertanyaan, karena jika“selubung” rohaninya itu masih tertutup, jawaban sebaik apa pun tidak ada gunanya sama sekali.

  3. Usahakan menjawab dengan singkat, jelas, & padat, tidak bertele-tele. Walaupun terkadang ada juga pertanyaan sederhana yang memerlukan jawaban yang cukup panjang, sebaiknya perhatikan forum, dalam bentuk apa jawaban yang akan berikan, tertulis atau lisan, waktunya panjang atau singkat. Jika tidak siap atau situasi dan kondisi kurang memungkinkan, sebaiknya tunda jawaban Anda, jangan menolak menjawab, tetapi jika memungkinkan, jadwalkan ulang waktu di kesempatan lain untuk memberikan jawaban.

  4. Jangan sombong, jika tidak tahu jawabannya, katakan tidak tahu. Nyatakan dengan jujur bahwa Anda belum dapat menjawabnya karena belum tahu jawabannya, Mintalah tenggat waktu sebelum memberikan jawaban, sebab orang paling pintar dari kepercayaan manapun juga tidak selalu dapat langsung menjawab semua pertanyaan dengan akurat sesuai dengan kitab sucinya (kecuali jika Ia mau asal-asalan menjawab). Apalagi kita hanyalah orang awam, bukan seorang ahli kitab suci.

  5. Jagalah etika, sopan-santun, dan sikap dalam memberikan jawaban, karena kualitas jawaban dapat menentukan kualitas kepribadian Anda. Jangan memaksakan pendapat Anda kepada orang lain, apalagi menghina, membalas dengan intimidasi, merendahkan orang lain. Kita tidak akan pernah bisa bersaksi bagi kemuliaan Tuhan, apalagi memenangkan hati orang lain, jika kita telah lebih dahulu menyakiti hatinya dan menjatuhkan harga dirinya.

  6. Tunjukkan sikap / itikat baik bahwa perbedaan pendapat itu adalah sesuatu yang wajar. Tuhan meminta kita untuk mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Lukas
    10:27), bahkan untuk mengasihi musuh kita dan berdoa mereka yang menganiaya kita (Matius 5:44). Berbeda keyakinan, tidak pernah akan menjadikan orang lain sebagai: BUKAN sesama.
    Tindakan beringas / anarkis, menyerang, cuma tanda bukti bahwa kita kurang dewasa dalam berpikir, kurang berhikmat, tidak percaya kepada keadilan & penghakiman Tuhan.

7. Banyak berdoa, terus belajar & hidup intim dengan Tuhan. Yohanes 14:2

Menurut DR. Ravi Zacharias, pertanyaan-pertanyaan terhadap iman Kekristenan dapat dibagi menjadi 4, yaitu pertanyaan tentang:

a. Asal-usul (origin)

b. Makna / pengertian (meaning)

c. Moralitas (morality)

d. Tujuan / sasaran (destiny)

Namun bukan itu yang mau saya bahas dalam artikel ini, tetapi lebih kepada trik-trik atau metode dalam menjawab semua pertanyaan yang ditujukan terhadap kebenaran menurut iman Kekristenan. Walaupun terkadang pertanyaan-pertanyaan itu bisa muncul dalam kombinasi dari beberapa jenis pertanyaan yang berbeda, namun secara garis besar dapat kita bedakan menjadi:

a. Pertanyaan dengan asumsi yang salah.

b. Pertanyaan dengan motivasi yang salah.

c. Pertanyaan yang timbul karena emosi.

d. Pertanyaan dengan rasa ingin tahu.


Berikut ini, mari kita simak satu-persatu jenis-jenis pertanyaan itu:

1. Pertanyaan dengan asumsi yang salah.

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini paling banyak jumlahnya. Sebenarnya ini mencerminkan kesombongan manusia yang merasa bijaksana, yang tanpa disadarinya sedang melawan Tuhan dan kebenaran-Nya. Namun bagi saya, pertanyaan-pertanyaan semacam ini sah saja, karena sebelum percaya, saya sendiri telah sering mengajukannya. Saya mulai menyadari karena setelah memiliki cara pandang yang tepat, ternyata semua itu hanyalah pertanyaan yang sia-sia. Terkadang saya bisa tertawa sendiri setelah menyadari betapa anehnya pertanyaan yang diajukan dengan asumsi yang salah itu.

Contoh:

a. “Jika segala sesuatu ada penciptanya, lalu siapakah yang menciptakan Tuhan?”

Pertanyaan ini pernah diajukan oleh Bertrand Russell (1872-1970), seorang filsuf dan ahli matematika dari Inggris. Walaupun pintar, Russell keliru dengan mengasumsikan Tuhan sebagai salah satu makhluk ciptaan. Jika Tuhan adalah obyek ciptaan, maka Ia pasti bukan Tuhan, sebab Tuhan adalah subyek, bukan obyek. Dialah Sang Pencipta itu. Tuhan adalah Pribadi dari Kebenaran yang hidup. Sama dengan prinsip kebenaran, Dia tidak diciptakan, tidak berawal & tidak berakhir.

Ahli matematika dan ilmu pasti ini sendiri pasti tidak pernah mempertanyakan kebenaran: “Siapakah yang menyebabkan 1 + 1 = 2, atau , atau mengapa H2 + O = H2O? Dari mana asal-usulnya dan sejak kapan semua kebenaran ini mulai diberlakukan?”

“Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.”" (Wahyu 22:13)

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. (Mazmur 25:9)

b. “Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mampu meng-Kristen-kan umat Israel di mana ia menjalankan misi dan tugas keagamaannya?” Fakta: mayoritas umat Israel tetap beragama Yahudi hingga sekarang.

Pertanyaan ini timbul dari ketidak-percayaan akan ke-Tuhanan Yesus dan asumsi bahwa misi dan tugas Yesus Kristus adalah meng-Kristen-kan manusia. Pertanyaan ini sekaligus juga mengasumsikan bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan pasti bisa membuat manusia percaya kepada-Nya. Padahal semua asumsi itu salah!

Tuhan memang Maha Kuasa, tetapi Ia penuh kasih, sehingga Dia memberikan kebebasan bagi manusia untuk percaya dan menerima atau tidak percaya dan bahkan menolak diri-Nya. Kasih yang sejati itu sebuah pilihan, bukan paksaan, begitu pula iman / kebenaran / agama yang sejati, sebuah pilihan, bukan paksaan.

Kalau seseorang yang jelek, jahat dan menginginkan tubuh Anda hanya untuk memuaskan nafsunya, maukah Anda dihipnotis supaya jatuh cinta kepadanya? Apakah itu dapat disebut sebagai cinta yang sejati? Apakah perbuatan ini didasarkan pada prinsip kebenaran? Apakah Anda akan memberikan cinta Anda dengan sukarela kepada seseorang yang sedang mengancam jiwa Anda?

Justru mereka yang memaksakan agamanya atau keinginannya sendiri kepada orang lain dengan cara-cara seperti hipnotis, ancaman, pemaksaan, pembunuhan, & pembakaran rumah ibadah, sudah dapat dipastikan tidak didasarkan dalam kasih dan prinsip kebenaran.

Jika Tuhan mau melakukan hal semacam itu (tanpa kasih), sudah dari dulu di dunia ini hanya ada 1 agama saja, tapi kenyataannya ‘khan tidak begitu.“Jika Tuhan mau melakukan segala sesuatu tanpa memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih, lalu mengapa Tuhan memberikan Adam hak / kuasa untuk mengelola semua ciptaan-Nya yang lain? Memangnya Tuhan tidak mampu untuk mengelola sendiri?”

Lagipula misi utama Yesus hadir di dunia bukan untuk meng-Kristen-kan, tetapi memulihkan hubungan antara manusia dengan Pencipta yang telah rusak akibat kutuk dosa (karena dosa dan kekudusan tidak mungkin dapat bersatu), serta melepaskan umat manusia dari kutuk maut. Dengan perantaraan Yesus sebagai manusia (yg tanpa dosa) untuk menanggung dosa (sebagai tebusan / tumbal) bagi umat manusia, melalui kematian-Nya di atas kayu salib.

Barulah lewat kematian dan kebangkitan-Nya yang mengalahkan maut itu, keselamatan menjadi sebuah kabar baik (Injil = kabar baik) untuk diberitakan bagi seluruh umat manusia, bahwa mulai saat itumanusia bisa memilih untuk percaya, menerima penebusan, dan dipulihkan hubungannya dengan Bapa di surga. Itu sebabnya, setelah peristiwa salib & kebangkitan-Nya, Yesus baru memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil Kebenaran sampai ke ujung bumi (Kis.1:8).

Sebelumnya, untuk mendapatkan pembenaran (keselamatan), manusia hanya dapat mengandalkan kekuatannya sendiri dengan berusaha sekuat tenaga dalam menjalani hidup sesuai hukum Taurat, yang sebenarnya adalah suatu hal yang mustahil (kutuk hukum Taurat).

Tentu saja untuk percaya itu pun sebuah pilihan, jika manusia yang mendengar Injil itu merasa dirinya sudah “benar” dan tidak memerlukan penebusan dosa, maka dia tidak mungkin dapat datang kepada salib Kristus, sebab dia menolak untuk percaya.

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar [termasuk mereka yang merasa benar], melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17)

Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang

rendah hati dengan keselamatan. (Mazmur 149:4)

Pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa:

  1. “Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia selama hidupnya hanya berkeliling di wilayah Israel saja, padahal manusia pada waktu itu sudah tersebar luas di seluruh penjuru bumi?”

  2. “Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia melarang kedua belas muridnya untuk berdakwah ke negeri lain selain negeri Israel?”

  3. “Jika Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, mengapa ia tidak mampu menyelamatkan dirinya dan kaumnya dari dominasi penjajah Romawi, tetapi malah ia diserahkan oleh penguasa Romawi (Pontius Pilatus) untuk disalibkan?”

  4. “Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak mampu mempengaruhi umat Israel untuk mengikuti ajarannya, padahal ia lahir, besar, dan mati di tanah Israel?” (Bandingkan dengan ahli hipnotis Tommy Raphael yang mampu merubah perangai manusia dalam waktu sekejap!)

  5. “Jika Yesus adalah Tuhan, mengapa ia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan Semesta Alam di depan umat Israel?”

  6. “Jika Yesus adalah Tuhan Semesta Alam, mengapa ia disetir oleh Bapa?” dan lain-lain.

Cara menjawab:

Sebelum dijawab, pertanyaan jenis ini harus diluruskan terlebih dahulu logika dan asumsinya. Pertanyaannya saja sudah salah, jika dijawab dengan asumsi yang sama, tentu saja hanya akan menghasilkan jawaban yang salah pula. Biasanya pertanyaan semacam ini selalu diajukan dengan lampiran ayat firman, supaya tampak lebih meyakinkan. Sebaiknya kita juga memberikan jawaban yang dilampiri firman, agar jawaban kita nyata tidak bertentangan dengan kebenaran yang tertulis.

Bersambung …….

BARANGSIAPA MENANG,

ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Elohim-Ku,

dan ia tidak akan keluar lagi dari situ;

dan padanya akan Kutuliskan NAMA Elohim-Ku,

NAMA kota Elohim-Ku,

yaitu YERUSALEM BARU,

yang turun dari sorga dari Elohim-Ku,

dan NAMA-Ku yang baru.

(Wahyu 3:12)

Temukan juga jawaban utk pertanyaan2 ini:

Mengapa ada bgt banyak kontradiksi di dlm ayat2 Alkitab?

Bagaimana pandangan Kekristenan thd Hukum Karma?

Apakah sebenarnya yg dimaksud dgn "DOSA ASAL" itu?

Mengapa "org Kristen yg BENAR" tdk dpt disantet / diguna-guna?

Ada yg mengatakan bhw anak Abraham yg diperintahkan Tuhan utk dipersembahkan adalah Ismail, tp menurut Alkitab: Ishak. Temukan 7 alasan mengapa Alkitab justru lbh relevan.

Bagaimana cara mengatasi rasa sakit hati?

Apakah ada ayat Alkitab yg mendukung baptisan anak bayi?

Mengapa makanan yg diharamkan di Perjanjian Lama, sekarang dimakan oleh bnyk org Kristen?

Bagaimanakah cara utk berkomunikasi dgn Roh Kudus?

Apakah benar bhw semua agama itu sama & mengajarkan kebaikan?

Bagaimana mematahkan kuasa kutukan?

Bagaimana cara org Kristen mengusir setan?

Iman Kristen menyatakan bhw Yesus 100% Tuhan, sekaligus 100% manusia. Sungguh tdk msk akal, bagaimana menjelaskannya?

Apa saja yg dikatakan oleh Al-Qur'an ttg Yesus Kristus (Isa Al-Masih), namun tidak diketahui oleh kebanyakan org Muslim?

Semua agama meng-klaim ajarannya sbg kebenaran, apakah pernyataan tsb msk akal & bisa dibuktikan?

Semua jwbn ada di dalam E-Book Kristen Emas Murni. Utk mendapatkan, silahkah klik di sini.

Goldtrade News: